Langsung ke konten utama

Puisi : Bunga Abadi


Aku lelah menunggu.
kapan kau mengambil bunga abadi yang terselip dalam buku ini.
Aku memandang jauh.
Merasakan semakin lama semakin layu bunga ini.
Bunga keabadian
Yang mengukir setiap jengkal seluet tubuhmu.
Aku masih menunggu,
Kau mengambil bunga abadi ini.
Yang masih aku simpan dalam buku ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berakhir

Saat aku menulis ini mataku sudah tidak sembab lagi, iya benar. Ini tentang kamu lagi, entah ditulisan keberapa aku mengatakan memang sebaiknya kamu tidak kembali.  Sebulan lalu aku mendengar kalau kamu akhirnya menikah dengan gadis itu, gadis yang membuatku sebenarnya merasa kalah. Benar-benar kalah, karena dia yang pada akhirnya memilikimu.  Dengan banyak drama, dan yaahh. . . aku bukan wanita yang tepat untukmu. Kali ini biarkan saja aku sedikit mengingat hal-hal kecil yang selalu membuatku teringat olehmu.  "Hari ini masak apa ?"  aku selalu merindukan kata-kata seperti ini sepeleh memang, tapi ada hal yang membuatku merasa kalau masakanku yang tidak jelas ada yang menanti.  Apa kamu ingat kotak tempat makan ungu yang aku isi bekal waktu itu. Aku ingat saat itu masih pagi, dan kamu berangkat kerja. Aku mengisi kotak makan itu dengan gorengan bandeng yang sudah keras. Entah apa yang aku pikirkan saat itu.  Atau, saat aku jatuh dan kamu mengobatiku sambil...

WANITA PATAHATI

Teruntuk seorang yang berada dalam hatiku dulu dan sampai sekarang Apa kamu mengerti kenapa aku tidak pernah mengijinkamu menggandeng tanganku. Apa kamu tau kenapa aku tidak pernah meminta pertemuan yang mendesak. Apa kamu tau kenapa aku tidak pernah meminta password akun sosmendmu. Apa kamu tau kenapa aku seakan begitu cuek denganmu, seakan tidak tulus sayang denganmu. Apa kamu mengerti, hatiku melonjak ketika kamu menggandeng tanganku. Aku hanya malu, ketika wajah maluku terlihat olehmu. Dan maafkan aku ketika mengatakan “Nggak usah ngegandeng, bisakan ?” bukan aku tidak cinta. Aku hanya malu, dan itu lah alasan kenapa aku melepas tanganmu. Bukan aku tidak cinta, bukan karena itu. Aku hanya malu, wanita yang kamu kenal tegar, dan kadang tidak tau malu, tiba-tiba wajahnya jadi merah, hanya karena kamu gandeng tangannya. Apa kamu mengerti kenapa aku tidak meminta pertemuan yang lebih sering. Aku hanya mengerti kamu sibuk dengan robotmu, kampusmu, dan banyak hal lain. Bagai...

Cerpen : Hujan

Hari itu seperti biasa, matahari masih terbit dari timur. Aku mengeluarkan sepedah ontel warisan keluargaku. Aku menuntunya  menuju halaman. Dari dalam masih terdengar ribut-ribut ayahku yang masih saja membuat  ibu sakit. Rasanya ingin aku plester saja mulutnya. Bila tak ingat itu ayahku satu-satunya atau mungkin ancaman neraka jahanan karna menjadi anak durhaka. Pagi ini seperti biasa, ibu menyuruhku cepat-capat  berangkat sekolah. Bukan karna aku akan terlambat masuk sekolah. Tak lain dan tak bukan agar tak mendengar omelan ayah padanya. Sungguh aku tak sanggup hidup dengan seorang ayah yang seperti itu. Kadang aku berharap ayahku terbawa oleh kapal bajak laut agar dia tak lagi membuat ibuku menangis. Namun kenapa Tuhan menakdirkan ibuku menikah dengan ayah. Pelet apa yang digunakan ayah sampai-sampai ibu betah dengannya. Kadang aku panjatkan do’a berharap ini semua hanya mimpi. Dan saat aku terbangun aku memiliki keluarga yang bahagia. Dengan seorang a...